Mengkonversi Sistem Pemerintahan
Wednesday, 20 January 2010 05:24
administrator
Dari sudut pandangan agama, pemerintahan Indonesia adalah sah. Pandangan ini didasarkan pada dua dalil. Yaitu: pertama, presiden Indonesia dipilih langsung oleh rakyat. Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (2001:204), sistem pemilihan langsung oleh rakyat sama dengan pengangkatan Sayyidina Ali karamullah wajhah untuk menduduki jabatan Khalifah. Kedua, presiden terpilih Indonesia dilantik oleh MPR, sebuah gabungan dua lembaga tinggi, DPR dan DPD yang dapat disepadankan dengan ahlu a-halli wa al-‘aqdi dalam konsep al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthoniyah. Keabsahan pemerintahan Indonesia bukan hanya dapat dilihat dari sudut sistem pemilihan dan mekanisme pelantikan presiden saja, namun juga bisa dilihat dari terpenuhinya maqashidu al-syari’ah (tujuan syar’i) dari imamah (pemerintahan) Indonesia, dalam rangka menjaga kesejahteraan dan kemashlahatan umum. Terkait dengan ini, Imam al-Ghazali mengungkapkan dalam Al-Iqtishad fil ‘Itiqad (1988:147), menyatakan, “Dengan demikian tidak bisa dipungkiri kewajiban mengangkat seorang pemimpin (presiden) karena mempunyai manfaat dan menjauhkan mudharat di dunia ini”.
Read more...
|
Satra Santri
Friday, 01 May 2009 15:51
administrator
Cinta bisa membuat manusia menjadi gila, mabuk kepayang, kurang perhitungan atau seperti hidup di Dunia berbeda. Ada pria yang begitu mencintai Sang perempuan. Atau, ada perempuan yang begitu mendambakan cinta dari pria idaman. Variasi kisah yang melibatkan cinta bisa begitu banyak. Dan novel yang bertutur tentang cinta, lagu-lagu yang melantunkan tentang cinta, syair-syair cinta pun tak terbilang. Namun cinta, juga di kenal sebagai unsur yang begitu menggerogoti hati dan pikiran Manusia. Cinta, baik yang kesampaian maupun yang tidak kesampaian sama sekali, tetap saja menyita pikiran untuk menjalaninya. Disinilah, cinta tekadang mengalami benturan dengan norma-norma Agama. Apalagi kala cinta dianggap bagian dari nafsu birahi. Sementara di satu sisi , manusia dianjurkan untuk menekan nafsu birahinya sekuat tenaga, sampai menghasilkan kesadaran dan kontrol sempurna. Apakah seseorang beragama benar-benar dituntut untuk menekan nafsu birahinya menuju titik nol, atau bahkan minus? Apakah cinta selalu berwujud nafsu birahi antara laki-laki dan perempuan, sehingga sebaiknya dihindari sampai waktunya menurut kaidah Agama boleh diumbar? Apakah hubungan laki-laki dan perempuan yang saling mencintai berarti saling mengumbar nafsu? Sehingga harus dibentur-benturkan dengan Agama sebagai pegangan? Segenap pertanyaan ini menjadi rumit untuk dicari jawabannya kala cinta sepasang kekasih mesti dijalani dalam kubangan Agama dan kultur. Sebenarnya kalau kita ngomongin tentang cinta tidak akan pernah ada habis-habisnya. Sebab cinta ada sejak manusia dilahirkan ke dunia oleh tuhan. Cinta merupakan anugerah Tuhan yang paling mulia dibandingkan yang lain. Tuhan menciptakan makhluknya dengan cinta, karena cintalah manusia ada. Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi. Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerakkan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan, yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain.
Read more...
Last Updated ( Tuesday, 19 May 2009 06:27 )
Sejarah
Monday, 20 April 2009 23:58
administrator
Pondok Pesantren Nurul Islam Jember merupakan salah kota yang mempunyai ciri khas budaya masyarakat ke-ti mura-an. Salah satu faktornya adalah masyarakatnya yang religius mempunyai potensi tersendiri untuk selalu menghiasi kehidupannya dengan nilai-nilai keagamaan. Masyarakat yang religius juga harus dibarengi dengan membuka wacana, mempelajari dan mengamalkan nilai keislaman secara kaffah, sebagai pijakan dasar dalam melaksanakan segala kegiatan sehari-hari. Namun di sisi lain, derasnya arus modernisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan informasi dan komunikasi dunia telah membawa perubahan-perubahan mendasar pada moral dan perilaku di kalangan generasi muda. Untuk itu perlu adanya suatu penetrasi-penetrasi yang diharapkan mampu membendung arus besar modernisasi yang tanpa kita sadari telah menimbulkan erosi terhadap nilai-nilai sosial budaya dan agama yang kita anut dan kita pertahankan selama ini.
Salah satunya adalah melalui pondok pesantren sebagai salah satu lembaga keislaman yang berfungsi multidimensi, yang selama ini masih mampu sebagai bumper dari derasnya serangan modernisasi.Ternyata masyarakat sadar akan bahaya yang selalu mengintai setiap saat, sehingga muncullah inisiatif mereka untuk berupaya merealisasikan maksud diatas, maka secara kolektif masyarakat meminta kepada salah satu tokoh (baca ; kyai ) dijember untuk kiranya dapat mengabulkan maksud mereka, tokoh tersebut adalah KH. Muhiyddin Abdusshomad.
Read more...
Last Updated ( Saturday, 04 July 2009 10:44 )
|
|