Pondok Pesantren Nurul Islam
Jember merupakan salah kota yang mempunyai ciri khas budaya masyarakat ke-ti mura-an. Salah satu faktornya adalah masyarakatnya yang religius mempunyai potensi tersendiri untuk selalu menghiasi kehidupannya dengan nilai-nilai keagamaan. Masyarakat yang religius juga harus dibarengi dengan membuka wacana,
mempelajari dan mengamalkan nilai keislaman secara kaffah, sebagai pijakan dasar dalam melaksanakan segala kegiatan sehari-hari. Namun di sisi lain, derasnya arus modernisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan informasi dan komunikasi dunia telah membawa perubahan-perubahan mendasar pada moral dan perilaku di kalangan generasi muda. Untuk itu perlu adanya suatu penetrasi-penetrasi yang diharapkan mampu membendung arus besar modernisasi yang tanpa kita sadari telah menimbulkan erosi terhadap nilai-nilai sosial budaya dan agama yang kita anut dan kita pertahankan selama ini.
Salah satunya adalah melalui pondok pesantren sebagai salah satu lembaga keislaman yang berfungsi multidimensi, yang selama ini masih mampu sebagai bumper dari derasnya serangan modernisasi.Ternyata masyarakat sadar akan bahaya yang selalu mengintai setiap saat, sehingga muncullah inisiatif mereka untuk berupaya merealisasikan maksud diatas, maka secara kolektif masyarakat meminta kepada salah satu tokoh (baca ; kyai ) dijember untuk kiranya dapat mengabulkan maksud mereka, tokoh tersebut adalah KH. Muhiyddin Abdusshomad.
Maka bertepatan pada tahun 1981, didirikanlah sebuah pondok pesantren yang beralamat di Jalan Sarangan 38 ( Jl. Pangandaran 48 ) Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumebrsari. Dengan menempati luas Lahan sekitar 5 Hektar yang saat ini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Nurul Islam ( NURIS ). Pada awal mula berdirinya pondok pesantren ini, kurikulum yang dipakai masih sangat tradisional sekali, sama dengan kurikulum kebanyakan pondok pesantren di kala itu.
Pada tahun 1983 dirikan SMP NURIS selanjutnya pada tahun 1989 berdiri SMA NURIS dan disusul pendirian SMK NURIS pada tahun 2002 Seiring dengan perjalanan waktu didirikan pula TK *** BINA PRASA NURIS dan Play Group NURIS , dan pada tahun ini akan berdiru MADRASAH STANAWIYAH UNGGULAN NURIS dengan jumlah maksimal 30 siswa . namun Yayasan tidak mendirikan Sekolah Tingkat Dasar baik SD / MI karena di lingkungan Antirogo sudah ada sekitar 12 sekolah SD dan MI yang berdekatan.
Saat ini jumlah santri di Pondok Pesantren Nurul Islam ( NURIS ) sebanyak 300 santiwan dan santriwati, 156 santri dan 175 santriwati..Pada garis besarnya kurikulum yang ada di pesantern terbagi menjadi dua bagian yaitu
Kurikulum Non Formal yang dikelola sepenuhnya oleh pondok pesantren tampa campur tangan lembaga formal ( Diknas dan Depag ) walaupun sistem pembelajaran yang diterapkan menggunakan sistem Klasikal Berjenjang ( Madrasah Diniyah Ula dan Madrasah Diniyah Wustho ) .
Kurikulum Formal yang mengacu pada Depertemen Pendidikan Nasional ( PLAY GROUP NURIS, TK BINA ANAPRASA NURIS, SMP NURIS, SMA NURIS,dan SMK NURIS ) dan kurikulum yang mengacu pada Departemen Agama ( MADRASAH STANAWIYAH UNGGULAN NURIS, PAKET C NURIS )
Untuk Kurikulum pendidikan formal yang berafiliasi dengan Diknas semisal SMP, SMA dan SMK pengayaan kurikulum agamanya bekerjasama dengan berbagai lembaga – lembaga kaagamaan semisal Lembaga Ma’arif NU . Kurikulum agama itu berisi tentang materi agama yang berwawasan plural dan multikultural.
Di banding dengan kurikulum atau matapelajaran umum, mata pelajaran agama di Pesantren ini prosentasenya 30 persen dan di tekankan pada membaca al-qur’an.dengan fashih dan menulis arab dengan benar .
Disamping itu , pesantren juga mengadakan kegiatan Ektra untuk menambah wawasan pengetahuan santri antara lain yang sedang berjalan adalah : Kajian Kitab Kuning
Pengembangan Bahasa Asing ( Arab & Inggris ), Muhadhoroh, Pengembangan keilmuan melalui karya tulis yang dikemas dengan penerbitan Majalah Nuris yang sudah terbit dua edisi, serta diskusi seputar pengetahuan aktual yang diasuh dan dibina langsung oleh Putera Pengasuh : Robith Qoshidi, LC.
Dalam proses belajar mengajar, dikembangkan berbagai pola pembelajaran dan metode yang berbeda-beda sesuai dengan materi yang diajarkan kepada siswa. Adapun metode pembelajaran yang dimaksud adalah metode ceramah, metode diskusi, tanya jawab, metode demonstrasi dan yang lagi aktual dikalangan santri saat ini adalah belajar dengan memamfaatkan Internet bantuan ICIP dengan mengexplor situs – situs yang terkait dengan materi ajar tentunya dengan bimbingan para ustadz yang sebelumnya memang sudah dilatih untuk mengunakan dan memamfaatkan media tersebut . atau bisa juga kami menggabungkan semua metode tersebut dalam satu mata pelajaran.
Dengan metode yang bervariasi tersebut, diharapakan siswa dapat mengembangkan kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik. Selain itu dalam proses belajar mengajar di Ponpes NURIS, selalu diterapkan kesetaraan antara santriwan dan santriwati. Di dalam kelas tidak dibedakan perlakuan antara laki-laki dan perempuan, tetapi tetap dalam pengawasan guru atau para ustadz..
Kerjasama Pesantren dengan masyarakat sekitar berjalan dengan baik. Kerjasama yang di lakukan dengan masyarakat sekitar misalnya pengajian muslimat yang diadakan semingu sekali tepatnya setiap hari minggu ( siang ) , Kajian Kitab Ahlussunnnah Waljama’ah bagi warga sekitar diadakan setiap hari minggu ( pagi ) , dan untuk pengajian wali murid di jadwal setiap ahad legi, sehingga mamfaat yang bisa diberikan pesantren pada masyarakat secara riil adalah Pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal .
Kemudian Pondok Pesantren juga sering mengadakan kegiatan – kegiatan lain yang sifatnya sporadis, berkala, misalnya kagiatan sosial Sunat masal ( 2003 ) bekerjasama dengan PTPN XII Jember, Penjualan Sembako murah bekerjasam Depkop ( 1987 ) dan lain –lain .
Pesantren juga sering menerima tokoh – tokoh nasional seperti : K.H. Abdurrohman Wahid , H.j Sinta Nuriah M.Hum, Dr. Amien Rois, Srisultan Hamengkubono IX ( Gubenur DIY ), Sutrisno Bahir ( Ketua PAN ), M.H. Ainun najib ( Budayawan ), Zawawi Imron ( Budayawan ), Rhoma Irama ( Musisi ) dan lain – lain .
Selain itu hubungan dengan sesama pesantren juga berjalan dengan baik dan sering mengadakan berbagai pelatihan diantaranya pelatihan tentang kesetaraan gender kerjasama dengan Rohima dan Puan Amal Hayati , Pelatihan Teknik Pertanian Tembakau dan lain-lain.
Pelaksanaan Program ODEL
Pelaksanaan program ODEL di PP Nurul Islam berjalan bersama-sama dengan kegitan sekolah yang eksis sebelumnya.
Pengelola program juga berusaha memanfaatkan sarana untuk kepentingan yang lebih luas lagi dengan melibatkan pihak sekolah lain. Beberapa kali diadakan pelatihan komputer dan internet untuk kepala sekolah dan guru dari sekolah-sekolah yang ada di sekitar pesantren.


















